BAB
1. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pestisida adalah
salah satu hasil teknologi modern yang mempunyai peranan penting dalam
peningkatan kesejahteraan rakyat. Penggunaannya dengan cara yang tepat dan aman
merupakan hal mutlak yang harus dilakukan mengingat pestisida adalah bahan yang
beracun. Penggunaan pestisida yang salah atau pengelolaannya yang tidak
bijaksana akan dapat menimbulkan dampak negatif baik langsung maupun tidak
langsung bagi kesehatan manusia dan lingkungan (Ika, 2007).
Pestisida sebagai
pembasmi hama sudah marak dipasaran. Tetapi mayoritas pestisida yang tersedia
saat ini merupakan pestisida yang berbahan kimia. Di satu sisi, pestisida yang
berbahan kimia memang mudah didapatkan dari berbagai tempat, tahan lama jika
disimpan, kemasannya praktis, daya racunnya tinggi sehingga dapat mematikan
serangga, serta lebih cepat bereaksi pada tanaman yang diberi pestisida.
Tetapi, di sisi lain pestisida menimbulkan
kerugian, seperti terbunuhnya musuh alami hama tanaman dan organisme yang
berguna, hama menjadi kebal terhadap pemberian pestisida (resistensi),
terjadinya peledakan hama (resurgensi), penumpukan residu bahan kimia pada
hasil panen, harganya relatif mahal, dan tidak ramah lingkungan sehingga
terjadi pencemaran lingkungan (tanah dan air) oleh residu bahan kimia dari
pestisida tersebut.
Oleh karena itu dibutuhkan suatu
pengendalian hama, dimana pengendali hama tersebut dapat mengendalikan hama
tetapi tidak menyebabkan kerugian bagi lingkungan disekitarnya. Penggunaan
insektisida sintetis yang berlebihan dan tidak tepat dapat menyebabkan dampak
negatif yang cukup serius. Jika masih diperlukan pengendalian Organisme
Pengganggu Tumbuhan (OPT) dengan menggunakan pestisida, maka dapat dipilih
pestisida yang berasal dari bahan-bahan nabati atau dikenal dengan nama
pestisida nabati. Pestisida nabati merupakan pestisida yang berasal dari
tumbuhan. Jenis pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga
tidak mencemarkan lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak, karena
residunya mudah hilang. Pertanian masa depan yang ideal seharusnya memadukan
teknologi tradisional dan teknologi modern yang diaktualisasikan sebagai
pertanian berwawasan lingkungan. Salah satu alternatif pengembangan pertanian
berwawasan lingkungan adalah dengan menggunakan tanaman-tanaman penghasil
pestisida alami, misalnya tanaman sirsak.
Tanaman sirsak pada
bagian daunnya dapat digunakan sebagai pengendali hama. Di dalam daun sirsak
terkandung bahan aktif annonain dan resin. Pestisida nabati daun sirsak efektif
mengendalikan hama seperti pada macam-macam aphis/belalang yaitu Wereng coklat
(Nilaparvata),Wereng hijau (Nephotettix virescenns),Wereng punggung putih
(Sogatella furcifera) ,Kutu sisik hijau (Coccus viridis) dan pada macam-macam
ulat yaitu Ulat Grayak (Spodoptera litura F),Ulat tritip (Plutella xylostella),
Lalat buah (Ceratitis capitata),Kumbang labu merah (Aulachopora
foveicollis),Kepik hijau, Hama kapas (Dysdercus koeniglii).
Jika ditambahkan
daun tembakau dan sirsak akan efektif mengendalikan hama belalang dan ulat.
Sedangkan jika ditambahkan jeringau dan bawang putih akan efektif mengendalikan
hama wereng coklat.
Rimpang jeringau
mengandung bahan aktif arosone, kalomenol, kalomen, kalameone, metil eugenol
yang jika dikombinasi dengan bahan aktif daun sirsak akan efektif mengendalikan
hama wereng. Sedangkan tembakau mengandung bahan aktif nikotin yang jika
dikombinasi dengan bahan aktif yang terkandung dalam daun sirsak akan efektif
mengendalikan hama ulat dan belalang.
Dalam upaya
pengembangan pestisida nabati tersebut, beberapa hal yang perlu diperhatikan
adalah (i) mudah didapat, bahan baku cukup tersedia, berkualitas, kuantitas dan
kontinuitas terjamin; (ii) mudah dibuat ekstrak, sederhana dan dalam waktu yang
tidak lama; (iii) kandungan senyawa pestisida harus efektif pada kisaran 3-5 %
bobot kering bahan; (iv) selektif; (v) bahan yang digunakan bisa dalam bentuk
segar/kering; (vi) efek residunya singkat, tetapi cukup lama efikasinya; (vii)
sedapat mungkin pelarutnya air (bukan senyawa sintetis); (viii) budidayanya
mudah, tahan terhadap kondisi suhu optimal; (ix) tidak menjadi gulma atau inang
hama penyakit; (x) bersifat multiguna.
1.2
Tujuan
Berdasarkan
gagasan tulis yang dibuat, tujuan dari penulisan ini adalah mengetahui potensi
dari ekstrak daun sirsak sebagai pengendali hama.
1.3
Manfaat
a. Untuk Petani
Melalui
pemanfaatan ekstrak daun sirsak, petani dapat mengendalikan hama kutu daun
dengan tidak merusak ekosistem, maupun faktor
biotik dan abiotik yang ada disekitarnya. Selain itu, besaran biaya yang
dibutuhkan tidak terlalu membebani petani.
b.
Untuk
Masyarakat
Melalui pemanfaatan ekstrak daun sirsak,
pengendalian hama tersebut tidak akan mengakibatkan tanaman-tanaman yang
dikonsumsi masyarakat mengandung bahan-bahan kimia dari pestisida, sehingga
tidak membahayakan bagi kesehatan manusia.
BAB 2.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Sebaran Pestisida
Dilaporkan oleh Kenmore (1991), bahwa konsumsi
insektisida untuk padi di Indonesia pada pertengahan tahun 80-an kira-kira
menempati porsi sebesar 20 persen dari konsumsi dunia. Impor pestisida
Indonesia terbesar adalah sekitar tahun-tahun sebelum 1986, kemudian pada tahun
1986 pemerintah Indonesia mengeluarkan Instruksi Presiden No 3/1986 yang berisi
larangan terhadap penggunaan 57 jenis pestisida untuk tanaman padi. Sesudah itu
nampaknya nilai impor pestisida menurun drastis dari 50 juta USD pada tahun
1984 menjadi sekitar 1,6 juta USD pada tahun 1986 (Sumber: www.fao.org).
Dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman
konvensional yang mula-mula digunakan dalam Program BIMAS pestisida dimasukkan
sebagai paket teknologi yang harus digunakan petani peserta intensifikasi
pertanian. Areal yang mengikuti BIMAS sejak tahun 1970-an terus meningkat
melalui peningkatan frekuensi tanam dan peningkatan luas pertanaman. Akibatnya
penggunaan pestisida untuk tanaman padi sejak tahun 1970 meningkat dengan
cepat. Namun meski manfaat penggunaan pestisida dapat dirasakan karena
menghindari kerugian akibat serangan OPT, tetapi hal ini tidak berjalan lama.
Petani semakin merasakan bahwa untuk memperoleh hasil yang sama terpaksa harus
semakin meningkatkan frekuensi maupun dosis penyemprotan. Dengan demikian biaya
pengendalian yang harus dikeluarkan semakin lama semakin meningkat sehingga
berakibat pada pengurangan pendapatan petani. Selain itu secara ekologis dan
kultur teknis penggunaan pestisida ternyata menyebabkan munculnya dampak
negatif berupa munculnya ketahanan hama, timbulnya resurjensi hama, dan letusan
hama kedua (Untung, 1993).
Sebagai contoh, akibat penggunaan pestisida yang
semakin meningkat pada tahun 1984 dilaporkan tercatat lebih dari satu juta ton
padi (cukup untuk memberi makan 2.5 juta orang) musnah akibat serangan wereng
coklat (brown planthopper) (Kenmore, 1991). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
serangan tersebut diakibatkan musnahnya musuh-musuh alami hama sebagai akibat
penggunaan pestisida yang berlebihan. Hal inilah yang menyebabkan akhirnya pada
tahun 1986 pemerintah Indonesia melarang digunakannya 56 jenis pestisida untuk
tanaman padi. Kebijakan ini tidak hanya dapat menghemat lebih dari 100 juta US
dollar per tahun tetapi juga dapat membuata lingkungan secara ekonomis maupun
ekologis menjadi lebih baik. Produksi pestisida turun menjadi 22 100 ton pada
tahun 1990 dan sementara itu impor pestisida pun turun sampai sepertiga dari
impor pada tahun 80-an.
Meski tidak ada data kuantitatif tentang dampak
pengurangan subsidi pestisida terhadap peningkatan kualitas lingkungan,
penurunan penggunaan pestisida secara drastis diakui mampu menurunkan kerusakan
lingkungan terutama yang menyangkut kesehatan publik dan pelestarian keragaman
hayati (biodiversity). Di sisi lain pengurangan pestisida tersebut ternyata
tanpa diikuti oleh penurunan produksi padi. Produksi beras justru naik dari 27
juta ton pada tahun 1986 menjadi 30 juta ton tahun 1990.
2.2
Tanaman Padi
Padi merupakan bahan makanan pokok bagi rakyat
Indonesia. Sebagian masyarakat kita sumber makanannya dapat berasal dari
jagung, sorghum dan sagu. Namun padi lebih popular, walaupun sekarang harga
beras mencapai harga yang sangat tinggi.
Oleh karena itu, kebijakan-kebijakan pokok yang perlu
dievaluasi pemerintah dalam meningkatkan produksi padi antara lain adalah:
1. Perluasan intensifikasi dengan Panca Usaha Tani di daerah-daerah
sentra penghasil padi, termasuk jaminan pengairan. Contohnya padi gogo rancah
yang kurang terjamin pengairannya, padi pasang surut/lebak dan intensifikasi
padi gogo di tanah kering. Disamping itu, eksentifikasi secara luas (pembukaan
lahan baru dan transmigrasi) tetap dilakukan.
2. Meningkatkan pengadaan bibit unggul dan penjualan bibit dengan harga
terjangkau.
3. Menyempurnakan sistem pengadaan dan distribusi termasuk memperluas
penyebaran para pengecer sarana produksi, seperti pupuk dan obat-obatan
pemberantas hama.
4. Meningkatkan penyediaan prasarana produksi, yaitu fisik dan
kelembagaan.
5. Menyempurnakan sistem dan perluasan penyediaan kredit bagi petani dan
penggarap.
Sumber: Divisi Pengembangan Produksi Pertanian (1973).
Dalam praktek di lapangan setiap penggunaan bibit unggul
baru sering menimbulkan atau mengundang hama atau penyakit tanaman baru. Karena
itu Pemerintah (baca: Departemen Pertanian) selalu waspada dan bijaksana dalam
penggunaan benih varietas unggul yang baru dan selalu menganjurkan agar
disertai dengan usaha-usaha penyempurnaan organisasi pengamatan dan peramalan
serangan hama dan penyakit (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian,1973).
Hama dan penyakit pada tanaman padi sangat beragam,
disamping faktor lingkungan (curah hujan, suhu dan musim) yang sangat mempengaruhi
terhadap produksi padi. Belum lagi mahalnya bibit, biaya produksi,pengangkutan
dan harga jual yang rendah sehingga petani jarang dapat meningkat kehidupan dan
kesejahteraan keluarganya.
Dihadapkan pada persoalan dilematis ini, tidak pernah
ada penyelesaiannya. Sebagai praktisi di bidang hama dan penyakit tanaman, kita
dapat memainkan peran dengan memberikan gambaran dan penyuluhan tentang hama-hama
pada tanaman padi.
2.2.1 Jenis
Hama yang Menyerang
Hama-hama
tanaman padi menurut Kartasapoetra (1993) terdiri dari :
1. Ulat Grayak (Spodoptera
litura)
Ulat ini sangat merugikan karena menyerang tanaman
secara bergerombol. Ulat grayak mulai memakan dari daun bagian tepi kemudian
kebagian atas maupun bawah daun. Pada tingkat serangan yang parah,daun hanya
tertinggal epidermisnya saja.Sehingga daun menjadi tidak berfungsi sebagai
tempat fotosintesis dan menghambat pertumbuhan
tanaman padi.
2. Wereng
Coklat (Nilapervata lugens)
Wereng coklat selalu
menghisap cairan dan air dari batang padi muda atau bulir-bulir buah muda lunak
,dapat meloncat tinggi dan tidak terarah,berwarna coklat,berukuran 3-5
mm,memiliki habitat di tempat lembab ,gelap,dan teduh. Hama ini menyebabkan
tanaman padi mati kering dan tampak seperti terbakar atau puso.
3. Wereng
Hijau (Nephotettix apicalis)
Merusak
kelopak-kelopak dan urat-urat daun padi dengan alat penghisap pada moncong yang
kuat . Bertelur (sebanyak 25 butir) yang ditempatkan dibawah daun padi selama
tiga kali sampai dia mati .Kerugian
yang diakibatkan oleh wereng hijau yaitu :
a. Menyebabkan
penyakit tungro. Fase pertumbuhan padi yang
rentan serangan
wereng hijau adalah
saat fase persemaian
sampai pembentukan anakan
maksimum, yaitu umur ± 30 hari setelah tanam.
b. Tanaman
kerdil, anakan berkurang, daun berubah
menjadi kuning sampai kuning oranye.
4. Kepik
Hijau (Nezera viridula)
Kepik
hijau berkembang pada iklim tropis, hidupnya berkoloni,betina berukuran kecil
(16 mm) dengan 1100 telur selama hidupnya,lama penetasan 6-8 minggu,jantan
berumur 6 bulan. Serangannya tidak sampai menghampakan padi,tetapi menghasilkan
padi berkualitas jelek (goresan-goresan membujur pada kulit gabah dan peca
apabila dilakukan penggilingan/penumbukkan).Hama
ini mengakibatkan padi yang dihasilkan berkualitas jelek (goresan-goresan
membujur pada kulit gabah dan pecah
apabila dilakukan penggilingan/penumbukkan)
2.2.2
Kerugian Akibat Penggunaan Pestisida Kimia
Dalam penerapan di bidang pertanian, ternyata tidak semua pestisida mengenai
sasaran. Kurang lebih hanya 20 persen pestisida mengenai sasaran sedangkan 80
persen lainnya jatuh ke tanah. Akumulasi
residu pestisida tersebut mengakibatkan pencemaran lahan pertanian. Apabila
masuk ke dalam rantai makanan, sifat beracun bahan pestisida dapat menimbulkan
berbagai penyakit seperti kanker, mutasi, bayi lahir cacat, CAIDS (Chemically
Acquired Deficiency Syndrom) dan sebagainya (Sa’id, 1994).
Pestisida yang paling banyak menyebabkan kerusakan
lingkungan dan mengancam kesehatan manusia adalah pestisida sintetik, yaitu
golongan organoklorin. Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh senyawa
organoklorin lebih tinggi dibandingkan senyawa lain, karena senyawa ini peka
terhadap sinar matahari dan tidak mudah
terurai (Sa’id, 1994).
Penyemprotan dan pengaplikasian dari bahan-bahan kimia
pertanian selalu berdampingan dengan masalah pencemaran lingkungan sejak
bahan-bahan kimia tersebut dipergunakan di lingkungan. Sebagian besar
bahan-bahan kimia pertanian yang disemprotkan jatuh ke tanah dan didekomposisi
oleh mikroorganisme. Sebagian menguap dan menyebar di atmosfer dimana akan
diuraikan oleh sinar ultraviolet atau diserap hujan dan jatuh ke tanah (Uehara,
1993).
Pestisida bergerak dari lahan pertanian menuju aliran
sungai dan danau yang dibawa oleh hujan atau penguapan, tertinggal atau larut pada aliran permukaan, terdapat
pada lapisan tanah dan larut bersama dengan aliran air tanah. Penumpahan yang
tidak disengaja atau membuang bahanbahan
kimia yang berlebihan pada permukaan air akan meningkatkan konsentrasi
pestisida di air. Kualitas air dipengaruhi oleh pestisida berhubungan dengan
keberadaan dan tingkat keracunannya, dimana kemampuannya untuk diangkut adalah
fungsi dari kelarutannya dan
kemampuan diserap oleh
partikel-partikel tanah.
Berdasarkan
data yang diperoleh Theresia (1993) dalam Sa’id (1994), di Indonesia kasus
pencemaran oleh pestisida menimbulkan
berbagai kerugian. Di Lembang dan Pengalengan tanah disekitar kebun wortel,
tomat, kubis dan buncis telah tercemar oleh residu organoklorin yang cukup
tinggi. Juga telah tercemar beberapa sungai di Indonesia seperti air sungai
Cimanuk dan juga tercemarnya produk-produk hasil pertanian.
2.3 Tinjauan
Umum Tanaman Sirsak
Tanaman
sirsak memang menawarkan berbagai kandungan positif bagi kesehatan manusia,
mulai dari buahnya, daunnya, bahkan pohonnya. Telah banyak diketahui bahwa buah
sirsak banyak mengandung vitamin C, kandungan serat dan nutrisi penting lainnya
banyak terkandung dalam buah yang banyak ditemui di negara Tropis ini.
Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai pohon sirsak yang banyak.
Tapi ternyata pemanfaatannya hanya sebatas pada buahnya saja, ini karena
kurangnya pengetahuan tetang manfaat daun sirsak.
Daun sirsak
ternyata mengandung banyak manfaat untuk bahan pengobatan herbal, dan untuk
menjaga kondisi tubuh. Dibalik manfaatnya tersebut ternyata tak lepas dari
kandungannya yang banyak mengandung acetogenins,
annocatacin, annocatalin, annohexocin, annonacin,
annomuricin, anomurine, anonol, caclourine,
gentisic acid, gigantetronin, linoleic acid, muricapentocin.
Kandungan senyawa ini merupakan senyawa yang banyak sekali manfaatnya bagi
tubuh, bisa sebagai obat penyakit atau untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
Tetapi tidak hanya itu, manfaat lain dari daun tanaman sirsak yaitu dapat
digunakan sebagai pengendali hama, khususnya pada bagian daun dan biji sirsak
yang diekstrak dan kemudian dijadikan pestisida nabati untuk mengendalikan
hama.
2.3.1 Potensi Daun Sirsak di Malang
Malang memiliki
38 kecamatan dengan 5 kecamatan pada Kota Malang dan 33 kecamatan pada
Kabupaten Malang. Dari 38 kecamatan tersebut, diperkirakan pada Kabupaten Malang
yang berjumlah 33 kecamatan lebih berpotensi terdapat tanaman sirsak. 33 kecamatan
yang ada di Kabupaten Malang yaitu, Kecamatan Donomulyo, Kalipare, Pagak,
Bantur, Gedangan, Sumber Manjing Wetan, Dampit, Tirtoyudo, Ampelgading,
Poncokusumo, Wajak, Turen, Bululawang, Gondanglegi, Pagelaran, Kepanjen,
Sumberpucung, Kromengan, Ngajum, Wonosari, Wagir, Pakisaji, Tajinan, Tumpang,
Pakis, Jabung, Lawang, Singosari, Karangploso, Dau, Pujon, Ngantang, dan Kasembon.
Dari ke-33 kecamatan tersebut diambil 100 rumah dan dari 100 rumah tersebut
diperkirakan terdapat ¼ nya atau 25
rumah yang menanam tanaman sirsak. Dari 25 rumah tersebut diperkirakan terdapat
20 tanaman sirsak yang daunnya dapat dijadikan sebagai sumber pembuatan
pestisida nabati. Dari setiap tanaman sirsak per pohonnya diperkirakan dapat
menghasilkan 1 kg daun sirsak yang dapat dijadikan bahan dasar pembuatan
pestisida nabati. Oleh karena itu, potensi daun sirsak di daerah Malang
kabupaten cukup besar dan diharapkan dapat terus memasok kebutuhan daun sirsak
sebagai salah satu bahan dasar dalam pembuatan pestisida nabati.
2.3.1 Kandungan Daun Sirsak Sebagai Pestisida Nabati
Daun sirsak mengandung senyawa acetogenin, antara lain asimisin, bulatacin
dan squamosin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa acetogenin memiliki
keistimewaan sebagai anti feedent. Dalam hal ini, serangga hama tidak lagi
bergairah untuk melahap bagian tanaman yang disukainya. Sedangkan pada
konsentrasi rendah, bersifat racun perut yang bisa mengakibatkan serangga hama
menemui ajalnya (Hartati, 2002).
Acetogenin adalah senyawa polyketides dengan
struktur 30-32 rantai karbon tidak bercabang yang terikat pada gugus
5-methyl-2-furanone. Rantai furanonedalam gugus ydrofuranone pada C23memiliki
aktifitas sitotoksik,dan derivate acetoganin yang berfungsi sitotoksik adalah
asimicin,bulatacin,dan squamocin (Kardinan,2000)
Selain itu daun sirsak mengandung zat toksik
bagi serangga hama .Serangga yang menjadi hama di lapangan maupun pada bahan simpan
mengalami kelainan tingkah laku akibat bahan efektif yang terkandung pada daun
sirsak. Disamping itu dapat juga menyebabkan pertumbuan serangga terhambat
,mengurangi produksi telur,dan sebagai repellen (penolak). (Gruber dan
Karganilla,1989)
Bagian dari tanaman sirsak yang
digunakan sebagai pestisida nabati adalah daun dan biji.Disamping itu, daun,
biji, akar dan buahnya yang mentah juga mengandung senyawa annonain (Mulyaman,
dkk.2000).
Daun dan biji sirsak dapat berperan
sebagai insektisida, larvasida, repellent (penolak serangga) dan antifeedent
(penghambat makan) dengan cara menghaluskan daun dan biji, kemudian dicampur
dengan pelarut. Cara kerjanya sebagai racun kontak dan perut. Ekstrak daun
sirsak dapat digunakan untuk mengendalikan belalang dan hama lainnya seperti
wereng (Kaedinan, 2005).
2.3.2
Hama yang
Dapat Dibasmi Pestisida Nabati Daun Sirsak
Daun sirsak
memang dapat digunakan untuk membasmi hama, akan tetapi hanya pada hama
tertentu saja seperti pada macam-macam aphis/belalang yaitu Wereng coklat (Nilaparvata),Wereng hijau (Nephotettix virescenns),Wereng
punggung putih (Sogatella furcifera) ,Kutu sisik hijau (Coccus
viridis) dan pada macam-macam ulat yaitu Ulat Grayak (Spodoptera
litura F),Ulat tritip (Plutella
xylostella), Lalat buah (Ceratitis
capitata),Kumbang labu merah (Aulachopora
foveicollis),Kepik hijau, Hama kapas (Dysdercus koeniglii). Lebih spesifik lagi, ekstrak daun sirsak dapat
mengendalikan beberapa jenis hama lain dengan penambahan beberapa bahan.
Pengaruh pemberian pestisida nabati
dari daun sirsak terhadap belalang adalah belalang yang makanannya telah diberi
pestisida nabati ini, belalangnya kurang aktif jika dibandingkan belalang yang
tidak diberi pestisida nabati, dan dalam kurun waktu 3 hari belalang yang
diberi pestisida nabati tersebut mati, dikarenakan memakan daun padi yang telah
diberi pestisida daun sirsak
Oleh karena itu, serangga harus
terlebih dahulu memakan tanaman yang sudah disemprot dengan insektisida
dalam jumlah yang cukup untuk membunuhnya.
2.3.3
Kelebihan
Dan Kekurangan Dari Pestisida Nabati
Menurut Stoll
(1995) dibandingkan dengan pestisida sintetik pestisida nabati mempunyai sifat
yang lebih menguntungkan yaitu:
1. Mengurangi resiko hama mengembangkan sifat resistensi.
2.
Tidak mempunyai dampak yang merugikan bagi musuh alami hama.
3.
Mengurangi resiko
terjadinya letusan hama kedua.
4.
Mengurangi bahaya
bagi kesehatan manusia dan ternak.
5.
Tidak
merusak lingkungan dan persediaan air tanah dan air permukaan.
6.
Mengurangi
ketergantungan petani terhadap agrokimia dan biaya dapat lebih murah.
7.
Bahan nabati
mempunyai sifat yang menguntungkankarena daya racun rendah.
8.
Lebih akrab
lingkungan serta lebih sesuai dengan kebutuhan keberlangsungan usaha tani skala
kecil.
Oka (1993) juga mengemukakan bahwa pestisida nabati tidak
mencemari lingkungan, lebih bersifat spesifik, residu lebih pendek dan
kemungkinan berkembangnya resistensi lebih kecil.
2.3.4
Keuntungan
menggunakan pestisida nabati daun sirsak
1.
Dapat mengurangi hama belalang yang
menjadi hama bagi tanaman budidaya tanpa merusak ekosistem atau rantai
makanannya.
Penggunaan pestisida nabati dapat membasmi hama pada tanaman budi daya
tanpa merusak ekosistem ataupun rantai makanannya karena pestisida nabati tidak
menggunakan bahan kimia yang dapat membunuh serangga lain yang bukan merupakan
hama bagi tanaman budidaya.
2.
Mengurangi penggunaan bahan kimia
dalam budidaya tanaman,
Dengan pemakaian pestisida nabati kita bisa mengurangi penggunaan bahan
kimia pada budidaya tanaman karena pestisida nabati hanya menggunakan
bahan-bahan alami dalam pembuatannya.
3.
Lingkungan lebih terjaga karena
tidak ada residu bahan kimia,
Penggunaan pestisida nabati tidak menimbulkan penumpukan residu bahan kimia
yang berlebihan .Hal tersebut berbanding terbalik dengan penggunaan pestisida
sintetik yang menimbulkan penumpukan residu kimia pada lingkungan.
4.
Tanaman budidaya terutama sayuran
dapat tetap sehat untuk dikonsumsi.
Pestisida
nabati tidak mengakibatkan penumpukan residu bahan kimia pada hasil panen
karena tidak adanya pencampuran bahan kimia pada pembuatan pestisida nabati.
2.3.5 Kelemahan Pestisida Nabati Daun Sirsak
Pestisida nabati
digunakan untuk menghindari adanya bahan kimia yang akan terkontaminasi pada
tanaman. Akan tetapi, dalam menggunakan pestisida nabati, ada beberapa
kelemahan yang dapat mengurangi peminat masyarakat dalam pemakaiannya. Menurut Martono (1997) kelemahan pestisida
nabati yang perlu kita ketahui antara lain:
1. Karena bahan nabati kurang stabil mudah terdegradasi oleh pengaruh fisik,
kimia maupun biotik dari lingkungannya, maka penggunaannya memerlukan
frekuensi penggunaan yang lebih banyak dibandingkan pestisida kimiawi
sintetik sehingga mengurangi aspek kepraktisannya,
2. Kesulitan menentukan dosis, kandungan kadar bahan aktif di bahan nabati
yang diperlukan untuk pelaksanaan pengendalian di lapangan, sehingga hasilnya
sulit diperhitungkan sebelumnya.
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penelitian
akan dilaksanakan
di Kebun
Percobaan Ngijo, Malang,
Jawa Timur.
3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang akan
digunakan dalam penelitian antara lain,
baskom, mixer, pengaduk, kain halus, gelas ukur, sprayer, label, stick, dan
bahan seperti air,detergen dan daun sirsak.
3.3 Metode Penelitian
Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak
Kelompok Faktorial (RAK Faktorial) dengan dua faktor, yaitu faktor I Dosis Pestisida dengan empat taraf dan faktor
II Varietas Padi dengan 2 taraf sehingga diperoleh delapan kombinasi perlakuan
sebagai berikut:
Faktor I : Dosis Pestisida dengan empat taraf, yaitu:
1.
0 ml/ per tanaman pada petak
lahan (5 m x 5 m)
= 0 ml Pestisida pada 625 tanaman
2.
50 ml/ per tanaman pada petak
lahan (5 m x 5 m)
= 50 ml Pestisida pada 625 tanaman
3.
100 ml/ per tanaman pada petak
lahan (5 m x 5 m)
= 100 ml Pestisida pada 625 tanaman
4.
150 ml/ per tanaman pada petak
lahan (5 m x 5 m)
= 150 ml Pestisida pada 625 tanaman
Faktor II : Varietas Padi
1.
Ciherang
2.
Cibogo
3.3.1 Tabel Dosis Pestisida
Faktor I
Faktor II
|
Dosis Pestisida
|
|||
S1 (ml)
|
S2 (ml)
|
S3 (ml)
|
S4 (ml)
|
|
0
|
50
|
100
|
150
|
|
Varietas Cihereng (V1)
|
S1V1
|
S2V1
|
S3V1
|
S4V1
|
Varietas Cibogo (V2)
|
S2V1
|
S2V2
|
S3V2
|
S4V2
|
Dari 8 kombinasi perlakuan tersebut diulang
sebanyak 4 kali, sehingga diperoleh 32 petak percobaan dan masing-masing petak
terdiri dari 25 tanaman.
3.4 Parameter Pengamatan
3.4.1 Jumlah Hama per Tanaman
pada Umur
1. Pada 3 Minggu Setelah Tanam
2. Pada 6 Minggu Setelah Tanam
3. Pada 9 Minggu Setelah Tanam
4. Pada 12 Minggu Setelah Tanam
5. Pada 15 Minggu Setelah Tanam
6. Pada saat panen
3.4.2 Vegetatif Tanaman
1. Tinggi Tanaman (pada 3, 6, 9, 12, 15 minggu setelah tanam dan saat panen)
2. Luas Daun (pada 3, 6, 9, 12, 15 minggu setelah tanam dan saat panen)
3. Biomassa (pada 9 dan 15 minggu setelah tanam)
Minggu setelah tanam/ panen
|
||||||
3
|
6
|
9
|
12
|
15
|
Panen
|
|
Tinggi tanaman (cm)
|
X
|
x
|
x
|
x
|
X
|
X
|
Lebar Daun (cm)
|
X
|
x
|
x
|
x
|
X
|
X
|
Biomassa
|
-
|
-
|
x
|
-
|
X
|
-
|
BAB 4. BIAYA DAN JADWAL
KEGIATAN\
4.1 Anggaran Biaya
Tabel 3.1 Ringkasan Anggaran
Biaya
No.
|
Jenis Pengeluaran
|
Biaya (Rp.)
|
1.
|
Biaya Peralatan Penunjang
|
1.360.000
|
2.
|
Biaya Bahan habis pakai
|
220.000
|
3.
|
Biaya Perjalanan (transportasi)
|
1.260.000
|
4.
|
Biaya Lain-lain: administrasi, publikasi, seminar, laporan,
lainnya
|
910.000
|
Jumlah
|
3.750.000
|
|
4.2 Jadwal Kegiatan
Kegiatan
|
Minggu
Setelah Tanam (2015)
|
|||||
3
MST
|
6MST
|
9
MST
|
12
MST
|
15
MST
|
Panen
|
|
Pengamatan
Faktor I
|
||||||
Pengamatan
Faktor II
|
||||||
Parameter
Pengamatan (Jumlah Hama/ tanaman)
|
||||||
Parameter
Pengamatan (Vegetatif Tanaman)
|
||||||
DAFTAR PUSTAKA
Gruber,L.C.
dan George S. Karganilla,1989. Neem Production and use. Pillipine-German
Biological Plant Protection Project Bureau of
Plant Industry Department of Agriculture 692 San Andress Street Malate.
Philippiness
Hartati,
Z. 2002. Pengujian Ekstrak Biji Daun Sirsak Untuk Mengendalikan Hama
Helicoperva armigera
Kardinan,
A. dan M. Iskandar. 1997. Pengaru Berbagai Jenis Ekstrak Tanaman Sebagai
Moluskisida Nabati Terhadap Keong Mas (Pomacea canaliculata). Jurnal
Perlindungan Tanaman Indonesia. 3 (2)
Kartasapoetra,
AG. 1993. Hama Tanaman Pangan dan Perkebunan. Bumi Aksara, Jakarta.
Nur Tjahjadi, 1996. Hama dan Penyakit Tanaman.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar