Senin, 07 Maret 2016

pemanfaatan ekstrak daun sirsak sebagai pestisida nabati


BAB 1. PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
Pestisida adalah salah satu hasil teknologi modern yang mempunyai peranan penting dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. Penggunaannya dengan cara yang tepat dan aman merupakan hal mutlak yang harus dilakukan mengingat pestisida adalah bahan yang beracun. Penggunaan pestisida yang salah atau pengelolaannya yang tidak bijaksana akan dapat menimbulkan dampak negatif baik langsung maupun tidak langsung bagi kesehatan manusia dan lingkungan (Ika, 2007).
Pestisida sebagai pembasmi hama sudah marak dipasaran. Tetapi mayoritas pestisida yang tersedia saat ini merupakan pestisida yang berbahan kimia. Di satu sisi, pestisida yang berbahan kimia memang mudah didapatkan dari berbagai tempat, tahan lama jika disimpan, kemasannya praktis, daya racunnya tinggi sehingga dapat mematikan serangga, serta lebih cepat bereaksi pada tanaman yang diberi pestisida. Tetapi, di sisi lain pestisida menimbulkan kerugian, seperti terbunuhnya musuh alami hama tanaman dan organisme yang berguna, hama menjadi kebal terhadap pemberian pestisida (resistensi), terjadinya peledakan hama (resurgensi), penumpukan residu bahan kimia pada hasil panen, harganya relatif mahal, dan tidak ramah lingkungan sehingga terjadi pencemaran lingkungan (tanah dan air) oleh residu bahan kimia dari pestisida tersebut.
Oleh karena itu dibutuhkan suatu pengendalian hama, dimana pengendali hama tersebut dapat mengendalikan hama tetapi tidak menyebabkan kerugian bagi lingkungan disekitarnya. Penggunaan insektisida sintetis yang berlebihan dan tidak tepat dapat menyebabkan dampak negatif yang cukup serius. Jika masih diperlukan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dengan menggunakan pestisida, maka dapat dipilih pestisida yang berasal dari bahan-bahan nabati atau dikenal dengan nama pestisida nabati. Pestisida nabati merupakan pestisida yang berasal dari tumbuhan. Jenis pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tidak mencemarkan lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak, karena residunya mudah hilang. Pertanian masa depan yang ideal seharusnya memadukan teknologi tradisional dan teknologi modern yang diaktualisasikan sebagai pertanian berwawasan lingkungan. Salah satu alternatif pengembangan pertanian berwawasan lingkungan adalah dengan menggunakan tanaman-tanaman penghasil pestisida alami, misalnya tanaman sirsak.
Tanaman sirsak pada bagian daunnya dapat digunakan sebagai pengendali hama. Di dalam daun sirsak terkandung bahan aktif annonain dan resin. Pestisida nabati daun sirsak efektif mengendalikan hama seperti pada macam-macam aphis/belalang yaitu Wereng coklat (Nilaparvata),Wereng hijau (Nephotettix virescenns),Wereng punggung putih (Sogatella furcifera) ,Kutu sisik hijau (Coccus viridis) dan pada macam-macam ulat yaitu Ulat Grayak (Spodoptera litura F),Ulat tritip (Plutella xylostella), Lalat buah (Ceratitis capitata),Kumbang labu merah (Aulachopora foveicollis),Kepik hijau, Hama kapas (Dysdercus koeniglii).
Jika ditambahkan daun tembakau dan sirsak akan efektif mengendalikan hama belalang dan ulat. Sedangkan jika ditambahkan jeringau dan bawang putih akan efektif mengendalikan hama wereng coklat.
Rimpang jeringau mengandung bahan aktif arosone, kalomenol, kalomen, kalameone, metil eugenol yang jika dikombinasi dengan bahan aktif daun sirsak akan efektif mengendalikan hama wereng. Sedangkan tembakau mengandung bahan aktif nikotin yang jika dikombinasi dengan bahan aktif yang terkandung dalam daun sirsak akan efektif mengendalikan hama ulat dan belalang.
Dalam upaya pengembangan pestisida nabati tersebut, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah (i) mudah didapat, bahan baku cukup tersedia, berkualitas, kuantitas dan kontinuitas terjamin; (ii) mudah dibuat ekstrak, sederhana dan dalam waktu yang tidak lama; (iii) kandungan senyawa pestisida harus efektif pada kisaran 3-5 % bobot kering bahan; (iv) selektif; (v) bahan yang digunakan bisa dalam bentuk segar/kering; (vi) efek residunya singkat, tetapi cukup lama efikasinya; (vii) sedapat mungkin pelarutnya air (bukan senyawa sintetis); (viii) budidayanya mudah, tahan terhadap kondisi suhu optimal; (ix) tidak menjadi gulma atau inang hama penyakit; (x) bersifat multiguna.
1.2         Tujuan
Berdasarkan gagasan tulis yang dibuat, tujuan dari penulisan ini adalah mengetahui potensi dari ekstrak daun sirsak sebagai pengendali hama.
1.3         Manfaat
a.    Untuk Petani
Melalui pemanfaatan ekstrak daun sirsak, petani dapat mengendalikan hama kutu daun dengan tidak merusak ekosistem, maupun faktor  biotik dan abiotik yang ada disekitarnya. Selain itu, besaran biaya yang dibutuhkan tidak terlalu membebani petani.
b.   Untuk Masyarakat
Melalui pemanfaatan ekstrak daun sirsak, pengendalian hama tersebut tidak akan mengakibatkan tanaman-tanaman yang dikonsumsi masyarakat mengandung bahan-bahan kimia dari pestisida, sehingga tidak membahayakan bagi kesehatan manusia.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1         Sebaran Pestisida
Dilaporkan oleh Kenmore (1991), bahwa konsumsi insektisida untuk padi di Indonesia pada pertengahan tahun 80-an kira-kira menempati porsi sebesar 20 persen dari konsumsi dunia. Impor pestisida Indonesia terbesar adalah sekitar tahun-tahun sebelum 1986, kemudian pada tahun 1986 pemerintah Indonesia mengeluarkan Instruksi Presiden No 3/1986 yang berisi larangan terhadap penggunaan 57 jenis pestisida untuk tanaman padi. Sesudah itu nampaknya nilai impor pestisida menurun drastis dari 50 juta USD pada tahun 1984 menjadi sekitar 1,6 juta USD pada tahun 1986 (Sumber: www.fao.org).
Dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman konvensional yang mula-mula digunakan dalam Program BIMAS pestisida dimasukkan sebagai paket teknologi yang harus digunakan petani peserta intensifikasi pertanian. Areal yang mengikuti BIMAS sejak tahun 1970-an terus meningkat melalui peningkatan frekuensi tanam dan peningkatan luas pertanaman. Akibatnya penggunaan pestisida untuk tanaman padi sejak tahun 1970 meningkat dengan cepat. Namun meski manfaat penggunaan pestisida dapat dirasakan karena menghindari kerugian akibat serangan OPT, tetapi hal ini tidak berjalan lama. Petani semakin merasakan bahwa untuk memperoleh hasil yang sama terpaksa harus semakin meningkatkan frekuensi maupun dosis penyemprotan. Dengan demikian biaya pengendalian yang harus dikeluarkan semakin lama semakin meningkat sehingga berakibat pada pengurangan pendapatan petani. Selain itu secara ekologis dan kultur teknis penggunaan pestisida ternyata menyebabkan munculnya dampak negatif berupa munculnya ketahanan hama, timbulnya resurjensi hama, dan letusan hama kedua (Untung, 1993).
Sebagai contoh, akibat penggunaan pestisida yang semakin meningkat pada tahun 1984 dilaporkan tercatat lebih dari satu juta ton padi (cukup untuk memberi makan 2.5 juta orang) musnah akibat serangan wereng coklat (brown planthopper) (Kenmore, 1991). Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan tersebut diakibatkan musnahnya musuh-musuh alami hama sebagai akibat penggunaan pestisida yang berlebihan. Hal inilah yang menyebabkan akhirnya pada tahun 1986 pemerintah Indonesia melarang digunakannya 56 jenis pestisida untuk tanaman padi. Kebijakan ini tidak hanya dapat menghemat lebih dari 100 juta US dollar per tahun tetapi juga dapat membuata lingkungan secara ekonomis maupun ekologis menjadi lebih baik. Produksi pestisida turun menjadi 22 100 ton pada tahun 1990 dan sementara itu impor pestisida pun turun sampai sepertiga dari impor pada tahun 80-an.
Meski tidak ada data kuantitatif tentang dampak pengurangan subsidi pestisida terhadap peningkatan kualitas lingkungan, penurunan penggunaan pestisida secara drastis diakui mampu menurunkan kerusakan lingkungan terutama yang menyangkut kesehatan publik dan pelestarian keragaman hayati (biodiversity). Di sisi lain pengurangan pestisida tersebut ternyata tanpa diikuti oleh penurunan produksi padi. Produksi beras justru naik dari 27 juta ton pada tahun 1986 menjadi 30 juta ton tahun 1990.

2.2         Tanaman Padi
Padi merupakan bahan makanan pokok bagi rakyat Indonesia. Sebagian masyarakat kita sumber makanannya dapat berasal dari jagung, sorghum dan sagu. Namun padi lebih popular, walaupun sekarang harga beras mencapai harga yang sangat tinggi.
Oleh karena itu, kebijakan-kebijakan pokok yang perlu dievaluasi pemerintah dalam meningkatkan produksi padi antara lain adalah:
1. Perluasan intensifikasi dengan Panca Usaha Tani di daerah-daerah sentra penghasil padi, termasuk jaminan pengairan. Contohnya padi gogo rancah yang kurang terjamin pengairannya, padi pasang surut/lebak dan intensifikasi padi gogo di tanah kering. Disamping itu, eksentifikasi secara luas (pembukaan lahan baru dan transmigrasi) tetap dilakukan.
2. Meningkatkan pengadaan bibit unggul dan penjualan bibit dengan harga terjangkau.
3. Menyempurnakan sistem pengadaan dan distribusi termasuk memperluas penyebaran para pengecer sarana produksi, seperti pupuk dan obat-obatan pemberantas hama.
4. Meningkatkan penyediaan prasarana produksi, yaitu fisik dan kelembagaan.
5. Menyempurnakan sistem dan perluasan penyediaan kredit bagi petani dan penggarap.
Sumber: Divisi Pengembangan Produksi Pertanian (1973).
Dalam praktek di lapangan setiap penggunaan bibit unggul baru sering menimbulkan atau mengundang hama atau penyakit tanaman baru. Karena itu Pemerintah (baca: Departemen Pertanian) selalu waspada dan bijaksana dalam penggunaan benih varietas unggul yang baru dan selalu menganjurkan agar disertai dengan usaha-usaha penyempurnaan organisasi pengamatan dan peramalan serangan hama dan penyakit (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian,1973).
Hama dan penyakit pada tanaman padi sangat beragam, disamping faktor lingkungan (curah hujan, suhu dan musim) yang sangat mempengaruhi terhadap produksi padi. Belum lagi mahalnya bibit, biaya produksi,pengangkutan dan harga jual yang rendah sehingga petani jarang dapat meningkat kehidupan dan kesejahteraan keluarganya.
Dihadapkan pada persoalan dilematis ini, tidak pernah ada penyelesaiannya. Sebagai praktisi di bidang hama dan penyakit tanaman, kita dapat memainkan peran dengan memberikan gambaran dan penyuluhan tentang hama-hama pada tanaman padi.

2.2.1 Jenis Hama yang Menyerang
Hama-hama tanaman padi menurut Kartasapoetra (1993) terdiri dari :
1.      Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Ulat ini sangat merugikan karena menyerang tanaman secara bergerombol. Ulat grayak mulai memakan dari daun bagian tepi kemudian kebagian atas maupun bawah daun. Pada tingkat serangan yang parah,daun hanya tertinggal epidermisnya saja.Sehingga daun menjadi tidak berfungsi sebagai tempat fotosintesis dan menghambat pertumbuhan  tanaman padi.
2.      Wereng Coklat (Nilapervata lugens)
Wereng coklat selalu menghisap cairan dan air dari batang padi muda atau bulir-bulir buah muda lunak ,dapat meloncat tinggi dan tidak terarah,berwarna coklat,berukuran 3-5 mm,memiliki habitat di tempat lembab ,gelap,dan teduh. Hama ini menyebabkan tanaman padi mati kering dan tampak seperti terbakar atau  puso.
3.      Wereng Hijau (Nephotettix apicalis)
Merusak kelopak-kelopak dan urat-urat daun padi dengan alat penghisap pada moncong yang kuat . Bertelur (sebanyak 25 butir) yang ditempatkan dibawah daun padi selama tiga kali sampai dia mati .Kerugian yang diakibatkan oleh wereng hijau yaitu :
a.       Menyebabkan penyakit tungro. Fase pertumbuhan padi yang
rentan  serangan  wereng  hijau  adalah  saat  fase  persemaian  sampai  pembentukan anakan maksimum, yaitu umur ± 30 hari setelah tanam.
b.      Tanaman kerdil,  anakan berkurang, daun berubah menjadi kuning sampai kuning oranye.

4.      Kepik Hijau (Nezera viridula)
Kepik hijau berkembang pada iklim tropis, hidupnya berkoloni,betina berukuran kecil (16 mm) dengan 1100 telur selama hidupnya,lama penetasan 6-8 minggu,jantan berumur 6 bulan. Serangannya tidak sampai menghampakan padi,tetapi menghasilkan padi berkualitas jelek (goresan-goresan membujur pada kulit gabah dan peca apabila dilakukan penggilingan/penumbukkan).Hama ini mengakibatkan padi yang dihasilkan berkualitas jelek (goresan-goresan membujur pada kulit gabah dan pecah apabila dilakukan penggilingan/penumbukkan)
2.2.2 Kerugian Akibat Penggunaan Pestisida Kimia
Dalam penerapan di bidang pertanian,  ternyata tidak semua pestisida mengenai sasaran. Kurang lebih hanya 20 persen pestisida mengenai sasaran sedangkan 80 persen  lainnya jatuh ke tanah. Akumulasi residu pestisida tersebut mengakibatkan pencemaran lahan pertanian. Apabila masuk ke dalam rantai makanan, sifat beracun bahan pestisida dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, mutasi, bayi lahir cacat, CAIDS (Chemically Acquired Deficiency Syndrom) dan sebagainya (Sa’id, 1994).
Pestisida yang paling banyak menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengancam kesehatan manusia adalah pestisida sintetik, yaitu golongan organoklorin. Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh senyawa organoklorin lebih tinggi dibandingkan senyawa lain, karena senyawa ini peka terhadap sinar matahari dan tidak mudah  terurai (Sa’id, 1994).
Penyemprotan dan pengaplikasian dari bahan-bahan kimia pertanian selalu berdampingan dengan masalah pencemaran lingkungan sejak bahan-bahan kimia tersebut dipergunakan di lingkungan. Sebagian besar bahan-bahan kimia pertanian yang disemprotkan jatuh ke tanah dan didekomposisi oleh mikroorganisme. Sebagian menguap dan menyebar di atmosfer dimana akan diuraikan oleh sinar ultraviolet atau diserap hujan dan jatuh ke tanah (Uehara, 1993).
Pestisida bergerak dari lahan pertanian menuju aliran sungai dan danau yang dibawa oleh hujan atau penguapan, tertinggal  atau larut pada aliran permukaan, terdapat pada lapisan tanah dan larut bersama dengan aliran air tanah. Penumpahan yang tidak disengaja  atau membuang bahanbahan kimia yang berlebihan pada permukaan air akan meningkatkan konsentrasi pestisida di air. Kualitas air dipengaruhi oleh pestisida berhubungan dengan keberadaan dan tingkat keracunannya, dimana kemampuannya untuk diangkut adalah fungsi dari kelarutannya dan  kemampuan  diserap  oleh  partikel-partikel tanah.
 Berdasarkan data yang diperoleh Theresia (1993) dalam Sa’id (1994), di Indonesia kasus pencemaran oleh  pestisida menimbulkan berbagai kerugian. Di Lembang dan Pengalengan tanah disekitar kebun wortel, tomat, kubis dan buncis telah tercemar oleh residu organoklorin yang cukup tinggi. Juga telah tercemar beberapa sungai di Indonesia seperti air sungai Cimanuk dan juga tercemarnya produk-produk hasil pertanian. 
2.3 Tinjauan Umum Tanaman Sirsak
Tanaman sirsak memang menawarkan berbagai kandungan positif bagi kesehatan manusia, mulai dari buahnya, daunnya, bahkan pohonnya. Telah banyak diketahui bahwa buah sirsak banyak mengandung vitamin C, kandungan serat dan nutrisi penting lainnya banyak terkandung dalam buah yang banyak ditemui di negara Tropis ini. Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai pohon sirsak yang banyak. Tapi ternyata pemanfaatannya hanya sebatas pada buahnya saja, ini karena kurangnya pengetahuan tetang manfaat daun sirsak.
Daun sirsak ternyata mengandung banyak manfaat untuk bahan pengobatan herbal, dan untuk menjaga kondisi tubuh. Dibalik manfaatnya tersebut ternyata tak lepas dari kandungannya yang banyak mengandung acetogenins, annocatacin, annocatalin, annohexocin, annonacin, annomuricin, anomurine, anonol, caclourine, gentisic acid, gigantetronin, linoleic acid, muricapentocin. Kandungan senyawa ini merupakan senyawa yang banyak sekali manfaatnya bagi tubuh, bisa sebagai obat penyakit atau untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Tetapi tidak hanya itu, manfaat lain dari daun tanaman sirsak yaitu dapat digunakan sebagai pengendali hama, khususnya pada bagian daun dan biji sirsak yang diekstrak dan kemudian dijadikan pestisida nabati untuk mengendalikan hama.
2.3.1 Potensi Daun Sirsak di Malang
Malang memiliki 38 kecamatan dengan 5 kecamatan pada Kota Malang dan 33 kecamatan pada Kabupaten Malang. Dari 38 kecamatan tersebut, diperkirakan pada Kabupaten Malang yang berjumlah 33 kecamatan lebih berpotensi terdapat tanaman sirsak. 33 kecamatan yang ada di Kabupaten Malang yaitu, Kecamatan Donomulyo, Kalipare, Pagak, Bantur, Gedangan, Sumber Manjing Wetan, Dampit, Tirtoyudo, Ampelgading, Poncokusumo, Wajak, Turen, Bululawang, Gondanglegi, Pagelaran, Kepanjen, Sumberpucung, Kromengan, Ngajum, Wonosari, Wagir, Pakisaji, Tajinan, Tumpang, Pakis, Jabung, Lawang, Singosari, Karangploso, Dau, Pujon, Ngantang, dan Kasembon. Dari ke-33 kecamatan tersebut diambil 100 rumah dan dari 100 rumah tersebut diperkirakan terdapat  ¼ nya atau 25 rumah yang menanam tanaman sirsak. Dari 25 rumah tersebut diperkirakan terdapat 20 tanaman sirsak yang daunnya dapat dijadikan sebagai sumber pembuatan pestisida nabati. Dari setiap tanaman sirsak per pohonnya diperkirakan dapat menghasilkan 1 kg daun sirsak yang dapat dijadikan bahan dasar pembuatan pestisida nabati. Oleh karena itu, potensi daun sirsak di daerah Malang kabupaten cukup besar dan diharapkan dapat terus memasok kebutuhan daun sirsak sebagai salah satu bahan dasar dalam pembuatan pestisida nabati.


2.3.1 Kandungan Daun Sirsak Sebagai Pestisida Nabati
Daun sirsak mengandung senyawa acetogenin, antara lain asimisin, bulatacin dan squamosin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa acetogenin memiliki keistimewaan sebagai anti feedent. Dalam hal ini, serangga hama tidak lagi bergairah untuk melahap bagian tanaman yang disukainya. Sedangkan pada konsentrasi rendah, bersifat racun perut yang bisa mengakibatkan serangga hama menemui ajalnya (Hartati, 2002).
Acetogenin adalah senyawa polyketides dengan struktur 30-32 rantai karbon tidak bercabang yang terikat pada gugus 5-methyl-2-furanone. Rantai furanonedalam gugus ydrofuranone pada C23memiliki aktifitas sitotoksik,dan derivate acetoganin yang berfungsi sitotoksik adalah asimicin,bulatacin,dan squamocin (Kardinan,2000)
Selain itu daun sirsak mengandung zat toksik bagi serangga hama .Serangga yang menjadi hama di lapangan maupun pada bahan simpan mengalami kelainan tingkah laku akibat bahan efektif yang terkandung pada daun sirsak. Disamping itu dapat juga menyebabkan pertumbuan serangga terhambat ,mengurangi produksi telur,dan sebagai repellen (penolak). (Gruber dan Karganilla,1989)
Bagian dari tanaman sirsak yang digunakan sebagai pestisida nabati adalah daun dan biji.Disamping itu, daun, biji, akar dan buahnya yang mentah juga mengandung senyawa annonain (Mulyaman, dkk.2000).
Daun dan biji sirsak dapat berperan sebagai insektisida, larvasida, repellent (penolak serangga) dan antifeedent (penghambat makan) dengan cara menghaluskan daun dan biji, kemudian dicampur dengan pelarut. Cara kerjanya sebagai racun kontak dan perut. Ekstrak daun sirsak dapat digunakan untuk mengendalikan belalang dan hama lainnya seperti wereng (Kaedinan, 2005).

2.3.2        Hama yang Dapat Dibasmi Pestisida Nabati Daun Sirsak
Daun sirsak memang dapat digunakan untuk membasmi hama, akan tetapi hanya pada hama tertentu saja seperti pada macam-macam aphis/belalang yaitu Wereng coklat (Nilaparvata),Wereng hijau (Nephotettix virescenns),Wereng punggung putih (Sogatella furcifera) ,Kutu sisik hijau (Coccus viridis) dan pada macam-macam ulat yaitu Ulat Grayak (Spodoptera litura F),Ulat tritip (Plutella xylostella), Lalat buah (Ceratitis capitata),Kumbang labu merah (Aulachopora foveicollis),Kepik hijau, Hama kapas (Dysdercus koeniglii). Lebih spesifik lagi, ekstrak daun sirsak dapat mengendalikan beberapa jenis hama lain dengan penambahan beberapa bahan.
Pengaruh pemberian pestisida nabati dari daun sirsak terhadap belalang adalah belalang yang makanannya telah diberi pestisida nabati ini, belalangnya kurang aktif jika dibandingkan belalang yang tidak diberi pestisida nabati, dan dalam kurun waktu 3 hari belalang yang diberi pestisida nabati tersebut mati, dikarenakan memakan daun padi yang telah diberi pestisida daun sirsak
Oleh karena itu, serangga harus terlebih dahulu memakan  tanaman yang sudah disemprot dengan insektisida dalam jumlah yang cukup untuk membunuhnya.

2.3.3        Kelebihan Dan Kekurangan Dari Pestisida Nabati
Menurut Stoll (1995) dibandingkan dengan pestisida sintetik pestisida nabati mempunyai sifat yang lebih menguntungkan yaitu:
1.      Mengurangi resiko hama mengembangkan sifat resistensi.
2.      Tidak mempunyai dampak yang merugikan bagi musuh alami hama.
3.      Mengurangi resiko terjadinya letusan hama kedua.
4.      Mengurangi bahaya bagi kesehatan manusia dan ternak.
5.      Tidak merusak lingkungan dan persediaan air tanah dan air  permukaan.
6.      Mengurangi ketergantungan petani terhadap agrokimia dan biaya dapat lebih murah.
7.      Bahan nabati mempunyai sifat yang menguntungkankarena daya racun rendah.
8.      Lebih akrab lingkungan serta lebih sesuai dengan kebutuhan keberlangsungan usaha tani skala kecil.
Oka (1993) juga mengemukakan bahwa pestisida nabati tidak mencemari lingkungan, lebih bersifat spesifik, residu lebih pendek dan kemungkinan berkembangnya resistensi lebih kecil.


2.3.4        Keuntungan menggunakan pestisida nabati daun sirsak
1.      Dapat mengurangi hama belalang yang menjadi hama bagi tanaman budidaya tanpa merusak ekosistem atau rantai makanannya.
Penggunaan pestisida nabati dapat membasmi hama pada tanaman budi daya tanpa merusak ekosistem ataupun rantai makanannya karena pestisida nabati tidak menggunakan bahan kimia yang dapat membunuh serangga lain yang bukan merupakan hama bagi tanaman budidaya.
2.      Mengurangi penggunaan bahan kimia dalam budidaya tanaman,
Dengan pemakaian pestisida nabati kita bisa mengurangi penggunaan bahan kimia pada budidaya tanaman karena pestisida nabati hanya menggunakan bahan-bahan alami dalam pembuatannya.
3.      Lingkungan lebih terjaga karena tidak ada residu bahan kimia,
Penggunaan pestisida nabati tidak menimbulkan penumpukan residu bahan kimia yang berlebihan .Hal tersebut berbanding terbalik dengan penggunaan pestisida sintetik yang menimbulkan penumpukan residu kimia pada lingkungan.
4.      Tanaman budidaya terutama sayuran dapat tetap sehat untuk dikonsumsi.
Pestisida nabati tidak mengakibatkan penumpukan residu bahan kimia pada hasil panen karena tidak adanya pencampuran bahan kimia pada pembuatan pestisida nabati.

2.3.5  Kelemahan Pestisida Nabati Daun Sirsak
Pestisida nabati digunakan untuk menghindari adanya bahan kimia yang akan terkontaminasi pada tanaman. Akan tetapi, dalam menggunakan pestisida nabati, ada beberapa kelemahan yang dapat mengurangi peminat masyarakat dalam pemakaiannya. Menurut Martono (1997) kelemahan pestisida nabati yang perlu kita ketahui antara lain:
1.      Karena bahan nabati kurang stabil mudah terdegradasi oleh pengaruh fisik, kimia maupun biotik dari lingkungannya, maka penggunaannya memerlukan frekuensi penggunaan yang lebih banyak dibandingkan pestisida kimiawi sintetik sehingga mengurangi aspek kepraktisannya,
2.      Kesulitan menentukan dosis, kandungan kadar bahan aktif di bahan nabati yang diperlukan untuk pelaksanaan pengendalian di lapangan, sehingga hasilnya sulit diperhitungkan sebelumnya.

BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penelitian akan dilaksanakan di Kebun Percobaan Ngijo, Malang, Jawa Timur.
3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang akan digunakan dalam penelitian antara lain, baskom, mixer, pengaduk, kain halus, gelas ukur, sprayer, label, stick, dan bahan seperti air,detergen dan daun sirsak.
3.3 Metode Penelitian
Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAK Faktorial) dengan dua faktor, yaitu faktor I  Dosis Pestisida dengan empat taraf dan faktor II Varietas Padi dengan 2 taraf sehingga diperoleh delapan kombinasi perlakuan sebagai berikut:
Faktor I : Dosis Pestisida dengan empat taraf, yaitu:
1.      0 ml/ per tanaman pada petak lahan (5 m x 5 m)
= 0 ml Pestisida pada 625 tanaman
2.      50 ml/ per tanaman pada petak lahan (5 m x 5 m)     
= 50 ml Pestisida pada 625 tanaman
3.      100 ml/ per tanaman pada petak lahan (5 m x 5 m)
= 100 ml Pestisida pada 625 tanaman
4.      150 ml/ per tanaman pada petak lahan (5 m x 5 m)
= 150 ml Pestisida pada 625 tanaman
Faktor II : Varietas Padi
1.      Ciherang
2.      Cibogo
3.3.1 Tabel Dosis Pestisida
Faktor I



Faktor II
Dosis Pestisida

S1 (ml)
S2 (ml)
S3 (ml)
S4 (ml)
0
50
100
150
Varietas Cihereng (V1)
S1V1
S2V1
S3V1
S4V1
Varietas Cibogo (V2)
S2V1
S2V2
S3V2
S4V2
Dari 8 kombinasi perlakuan tersebut diulang sebanyak 4 kali, sehingga diperoleh 32 petak percobaan dan masing-masing petak terdiri dari 25 tanaman.
3.4 Parameter Pengamatan
3.4.1 Jumlah Hama per Tanaman pada Umur
1. Pada 3 Minggu Setelah Tanam
2. Pada 6 Minggu Setelah Tanam
3. Pada 9 Minggu Setelah Tanam
4. Pada 12 Minggu Setelah Tanam
5. Pada 15 Minggu Setelah Tanam
6. Pada saat panen
3.4.2 Vegetatif Tanaman
1. Tinggi Tanaman (pada 3, 6, 9, 12, 15 minggu setelah tanam dan saat panen)
2. Luas Daun (pada 3, 6, 9, 12, 15 minggu setelah tanam dan saat panen)
3. Biomassa (pada 9 dan 15 minggu setelah tanam)

Minggu setelah tanam/ panen
3
6
9
12
15
Panen
Tinggi tanaman (cm)
X
x
x
x
X
X
Lebar Daun (cm)
X
x
x
x
X
X
Biomassa
-
-
x
-
X
-

BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN\
4.1  Anggaran Biaya
Tabel 3.1 Ringkasan Anggaran Biaya
No.
Jenis Pengeluaran
Biaya (Rp.)
1.
Biaya Peralatan Penunjang
1.360.000
2.
Biaya Bahan habis pakai
220.000
3.
Biaya Perjalanan (transportasi)
1.260.000
4.
Biaya Lain-lain: administrasi, publikasi, seminar, laporan, lainnya

910.000
Jumlah
3.750.000

4.2  Jadwal Kegiatan

Kegiatan
Minggu Setelah Tanam (2015)


3 MST


6MST


9 MST


12 MST


  15 MST


Panen
Pengamatan Faktor I






Pengamatan Faktor II






Parameter Pengamatan (Jumlah Hama/ tanaman)






Parameter Pengamatan (Vegetatif Tanaman)























DAFTAR PUSTAKA

Gruber,L.C. dan George S. Karganilla,1989. Neem Production and use. Pillipine-German Biological Plant Protection Project Bureau of  Plant Industry Department of Agriculture 692 San Andress Street Malate. Philippiness
Hartati, Z. 2002. Pengujian Ekstrak Biji Daun Sirsak Untuk Mengendalikan Hama Helicoperva armigera
Kardinan, A. dan M. Iskandar. 1997. Pengaru Berbagai Jenis Ekstrak Tanaman Sebagai Moluskisida Nabati Terhadap  Keong Mas (Pomacea canaliculata). Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. 3 (2)
Kartasapoetra, AG. 1993. Hama Tanaman Pangan dan Perkebunan. Bumi Aksara, Jakarta.
Nur  Tjahjadi, 1996. Hama dan Penyakit Tanaman. Penerbit Kanisius. Yogyakarta


 [S1]ditulis aja FAO, tahunnya berapa?? missal (FAO, 2015).